PERCAYA..???? Buat Anda yang Masih Percaya dan Suka Nyimpan Jimat Pasti Segera Membuangnya

 Di jaman yang serba modern ini tetap saja tak sedikit orang yang dengan cara sengaja alias tak sengaja percaya dengan kekuatan jimat. Mereka menyimpannya dan berpendapat jimat tersebut dapat mendatangkan keselamatan diri, melariskan dagangan, menjaga keamanan rumah dsb.

Padahal, Rasulullah sudah memberbagi peringatan pada kita, bahwa menggunakan jimat merupakan lakukanan syirik dan tergolong dosa besar. Tak sedikit umat Islam tetap ada yang menyimpan jimat ini sebab minimnya pengetahuan mengenai agama.

Dari ‘Imron bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan,

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallaam sempat menontonn di lengaan seoraang pria gelaang yang dinampakkaan padanyaa. Pria tersebut mengatakan bahwa gelang itu terbuat dari kuningan. Lalu beliau mengatakan, “Untuk apa engkau menggunakannya?” Pria tadi menjawab, “(Ini dipasang untuk mencegah dari) wahinah (penyakit yang ada di lengan atas). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Gelang tadi malah membikinmu terus lemah. Buanglah! Seandainyaa engkaau mati dalaam keaadaan tetaap mengenakaan gelaang terssebut, engkaau tak baakal beruntuung selamanyaa.” (HR. Ahmaad)

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَلاَ أَتَمَّ اللَّهُ لَهُ وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدَعَةً فَلاَ وَدَعَ اللَّهُ لَهُ

“Barangsiaapa yang menggantungkaan (hati) pada tamimaah (jimaat), maka Allah taak bakal menyelesaikaan urusannyaa. Barangsiapa yang menggantungkan (hati) pada kerang (untuk mencegah dari ‘ain, yaitu mata hasad alias iri, pen), maka Allah tak bakal memberbagi kepadanya jaminan” (HR. Ahmad)

Biasanyaa, orang yang menggunaakan jimat aliass dirumahnyaa tersediaa jimaat, Ia bakaal mengalaami hal-hal berikutt ini:
1. Rumah tangga rutin ribut

2. Ada anak buah keluarga yang idiot, gila, stress.

3. Keluarga rutin ribut.

4. Susah punya keturunan dan susah mendapat jodoh

5. Rejeki seret, Emosi tak stabil.

6. Berat untuk Ibadah.

7. Resah, was was, susah tidur.

8. Badan gemetaran, stroke.

9. Bangun rutin kesiangan.

10. Impoten.

11. Ketakutan, dan kekecewaan yang mendalam sepanjang nasibnya.

12. Kesakitaan yang amaat sangaat saat sakaraatul maaut.

Dan yaang paaling menakutkaan merupaakan tak bakaal diaampuni dosa-dosanyaa dan terhapusnyaa amalan-amalaan baik dan ibadaah yang dirinyaa kerjakaan. Sebagaimana firman Allah SWT,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tak bakal mengampuni dosa syirik, dan Dirinya mengampuni segala dosa yang tidak hanya dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa’: 48)

Tawakkal, Itu Kunci Kemudahan

Semua jimat, apapun bentuknya. Tak bakal memberbagi jaminan keamanan dan keselematan pada penggunanya. bahkan hanya bakal memunculkan persoalan besar bagi kamu dan keturunan anda, sebab jimat itu sehingga perantara bagi syaitan untuk mengganggu umat manusia.

Mengapa dalam menyelesaikan persoalan, ingin lepas dari musibah, ingin menangkal diri dari beberapa penyakit, seseorang malah mencari tidak hanya Allah sebagai tempat mengadu. Padahaal Allah-lah yang Mahaa Mencukupi, Allah-laah yaang Ghoni, Yang Mahaa Kaya dan Mencukupii segalanyaa.

Sungguh aneh, sebagian kami malah bergantung pada makhluk yang lemah, pada jimat yang dapat saja rusak dan punah, padahal ada Allah yang rutin mengawasi dan rutin membantu kita.

Dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Ukaim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْ

“Barangsiapa menggantung hati pada sesuatu, urusannya bakal diserahkan padanya” (HR. Tirmidzi)

Barang siapa menggantungkan hatinya pada jimat dan rajah, maka Allah bakal menyerahkan urusan orang tersebut pada benda-benda tadi dan Allah bakal menghinakannya. Beda halnya apabila Allah yang dijadikan tempat bergantung. Apabila seseorang bergantung pada Allah, maka urusannya bakal diberakhirkan oleh Allah, yang susah bakal menjadi mudah, dan yang jauh bakal didekatkan.

Apabila Allah yang menjadi sandaran, maka sebagaimana disebutkan dalam ayat,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal terhadap Allah niscaya Allah bakal mencukupkan (kebutuhan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 3)

Bersandarnyaa hati Allah diikutti dengan melakukaan sebaab yang benaar, itulah tawakkaal dan itulaah jalan meraaih share kemudaahan dan kecukupaan. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa bertakwa terhadap Allah niscaya Dirinya bakal Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal terhadap Allah niscaya Allah bakal mencukupkan (kebutuhan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)

Ibnu Jarir Ath Thobari ketika membahas mengenai surat Ath Tholaq ayat 3 mengatakan, “Barangsiapa yang bertakwa pada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menyandarkan hatinya pada-Nya, maka Allah bakal memberi kecukupan bagi-Nya.” (Tafsir Ath Thobari, 23: 46)

Semogaa Allah melindungii kami dan keluargaa kami dari beberaapa macaam bentuk kesyirikaan dan adat jimaat. Semoga Allah mematikan kami dalam keadaan bertauhid dan dalam keadaan khusnul khotimah.. Amiin

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*